Audit Teknologi Sistem Informasi
KONSEP AUDIT TI
Audit Teknologi Informasi(TI) merupakan bentuk pengawasan serta
pengendalian pada infrastruktur teknologi informasi. Pada dasarnya, tujuan
audit adalah untuk memberitahu bahwa usaha atau bisnis yang sedang dilaksanakan
berjalan dengan baik. Seiring dengan majunya teknologi saat ini, IT Auditor
memiliki tantangan baru serta hal baru yang harus dipelajari seperti ruang
lingkup audit sekarang yang meliputi cloud
computing, virtualisasi, dan lain sebagainya.
Hal tersebut
merupakan alasan auditor harus mengerti tentang urusan atau masalah perusahaan
yang sedang dihadapi serta risiko dari urusan atau masalah tersebut agar proses
audit dan kegiatan pendukung lainnya berjalan secara efektif. Maka dari itu,
seorang Auditor harus menggali pengetahuan lebih dalam untuk meningkatkan skill
dalam memecahkan masalah karena masalah yang terdapat pada perusahaan akan
terus berkembang mengikuti jalannya teknologi.
Seorang
Auditor juga dituntut dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan internal
controls yang terdapat pada perusahaan karena kelemahan-kelemahan ini dapat
dicurangi oleh manager-manager yang berada pada perusahaan tersebut. Maka dapat
disimpulkan bahwa tujuan utama dari audit adalah sebagai berikut:
- Memberikan kepastian kepada perusahaan bahwa internal controls berjalan dengan efektif.
2. Meningkatkan internal
controls pada perusahaan dengan membantu perusahaan dalam mengindentifikasi
kelemahan internal controls serta memberikan solusi yang cost-effective
dalam mengatasi masalah tersebut.
PROSES
AUDIT TI
Terdapat istilah dasar yang harus dipahami pada proses audit yaitu internal
controls. Internal controls merupakan sebuah mekanisme yang memastikan
bahwa proses pada dalam sebuah perusahaan bekerja dengan benar karena setiap
sistem dan proses yang ada pada sebuah perusahaan esensinya dibentuk untuk
mencapai sebuah tujuan yang spesifik dari perusahaan.
Internal
controls memiliki beberapa tipe yaitu:
1.
Preventive control
Sesuai dengan namanya, preventive
control merupakan kontrol pada perusahaan yang bersifat preventif atau
bersifat mencegah.
2.
Detective control
Detective control merupakan
kontrol yang mencatat sebuah kegiatan yang telah berlalu (logging)
sehingga kegiatan dapat ditinjau bila terdapat kejanggalan.
3. Reactive control
Reactive control merupakan kontrol yang
memiliki sifat menyerupai preventive
control dan detective control.
Kontrol ini tidak bersifat mencegah namun apabila kontrol ini menemukan sebuah
kejanggalan, kontrol ini akan segera memberitahu dan melakukan pembenahan sama
halnya seperti Antivirus pada computer. Oleh karena itu kontrol ini sering
disebut sebagai kontrol reactive.
Pada setiap kontrol
pasti memiliki sebuah celah atau kelemahan. Oleh karena itu tahap pertama pada
sebuah audit adalah menentukan apa yang harus diaudit dan setelah itu barulah
dilakukan proses audit dengan 6 fase besar audit yaitu:
1. Perencanaan
2. Dokumentasi
3. Penemuan masalah dan
validasi
4. Pengembangan solusi
5. Pembuatan laporan
6. Issue Tracking
Teknik Audit
Ada 13 teknik audit yaitu:
1. Audit
pengendalian Entity Level
2. Audit
data centers dan disaster recovery
3. Audit switch, routers dan firewalls
4. Audit
sistem operasi Windows
5. Audit
sistem operasi Linux
6. Audit
web server dan web aplikasi
7. Audit
database
8. Audit
penyimpanan
9. Audit
lingkungan virtual
10. Audit
WLAN dan mobile devices
11. Audit
aplikasi
12. Audit
cloud computing dan outsourced operations
13. Audit
proyek perusahaan/organisasi
Standard dan Kerangka Kerja
Dengan dominannya penggunaan komputer dalam membantu
kegiatan operasional diberbagai perusahaan, maka diperlukan standar-standar kontrol
sebagai alat pengendali internal untuk menjamin bahwa data elektronik yang
diproses adalah benar. Beberapa jenis standar kontrol yaitu:
1. SARBOX (Sarbanes-Oxley
Act)
Yaitu merupakan peraturan yang ditandatangani Presiden
George W.Bush tanggal 30 juli 2012 untuk mereformasi dunia pasarmodal Amerika
Serikat. Tujuan SARBOX yaitu:
a) Meningkatkan
akuntabilitas manajemen dengan memastikan bahwa manajemen akuntan dan pengacara
memiliki tanggung jawab atas informasi keuangan yang menjadi tanggung jawab
mereka.
b) Meningkatkan
pengungkapan dengan berusaha untuk menyatakan bahwa beberapa kejadian kunci dan
transaksi luar biasa tidak mendapatkan pengawasan hanya karena tidak
disyaratkan untuk diungkap di publik.
c) Meningkatkan
pengawasan rutin yang lebih intensif oleh SEC.
d) Meningkatkan
akuntabilitas akuntan.
2.
COBIT
(Control Objectives for Information and Related Technology)
Yaitu
alat pengendalian untuk informasi dan tekhnology terkait dan merupakan standar
terbuka yang dikembangkan oleh ISACA melalui ITGI (Information and Technology
Governance Institute) pada tahun 1992. Tujuan dari COBIT yaitu untuk
mengembangkan melakukan riset dan mempublikasikan suatu standar teknologi
informasi yang diterima umum dan selalu up to date untuk digunakan dalam
kegiatan bisnis sehari-hari.
3.
ISO
17799
standar
untuk sistem manajemen keamanan informasi meliputi dokomen kebijakan keamanan
informasi, alokasi keamanan informasi tanggung-jawab,menyediakan semua para
pemakai dengan pendidikan dan pelatihan didalam keamanan informasi, mengembangkan
suatu sistem untuk pelaporan peristiwa keamanan, memperkenalkan virus kendali,
mengembangkan suatu rencana kesinambungan bisnis, mengendalikan pengkopian
perangkat lunak kepemilikan, surat pengantar arsip organisatoris, mengikuti
kebutuhan perlindungan data, dan menetapkan prosedure untuk mentaati kebijakan
keamanan.
Regulasi Audit
Kerangka danStandar seiring
perkembangan teknologi informasi (IT) selama akhir abad ke-20, IT departemen
dalam setiap organisasi biasanya mengembangkan metode sendiri untuk mengelola
operasi. Akhirnya, kerangka kerja dan standar muncul untuk memberikan panduan
bagi pengelolaan dan evaluasi proses TI.
Beberapa kerangka kerja dan standar yang paling menonjol saat ini
terkait dengan penggunaan teknologi.
Manajemen Risiko
Perencanaan audit internal harus
berbasis pengetahuan akan risiko kegagalan organisasi dalam mencapai tujuan.
Perencanaan strategis perusahaan mencakupi pertimbangan risiko kegagalan
organisasi. Manajemen risiko berpengaruh pada perencanaan audit. Auditor
melakukan evaluasi kendali internal sebagai sarana penghindaran risiko.
Bagi COSO, pengukuran-penetapan risiko adalah
kegiatan penting bagi manajemen dan auditor internal korporasi, sehingga
auditor internal harus paham proses dan sarana untuk identifikasi,
penilaian, pengukuran dan penetapan tingkat risiko (risk assessment)
sebagai dasar menyusun prosedur audit internal. COSO menyatakan bahwa setiap
entitas menghadapi risiko internal dari luar, bahwa risiko-risiko tersebut
harus didentifikasi dan dinilai-diukur terfokus pada pengamanan sasaran
strategis korporasi.
Perubahan
sosial-politik-ekonomi-industri-hukum dan perubahan kondisi operasional
perusahaan teraudit mengandung risiko, manajemen perusahaan harus membentuk
mekanisme untuk mengenali & menghadapi perubahan tersebut. Basis utama
manajemen risiko adalah asesmen risiko. Untuk keberlangsungan usaha, asesmen
risiko merupakan tanggungjawab manajemen yang bersifat integral dan terus
menerus, karena manajemen tak dapat memformulasikan sasaran dengan asumsi
sasaran akan tercapai tanpa risiko atau hambatan.
Contoh risiko, bahaya, ancaman, atau hambatan
mencapai sasaran korporasi adalah:
a)
Pesaing meluncurkan produk baru
b)
Perubahan teknologi menyebabkan jasa
atau produk tidak laku
c)
Manajer andalan tiba-tiba mengundurkan
diri sebagai karyawan
d)
Formula rahasia dicuri dan dijual oleh
karyawan kepada pesaing
e)
KKN menggerus laba dan membuat
perusahaan keropos
Komentar
Posting Komentar